Featured Article
Latest Post

Senin, 21 April 2014

Senyum Santri

Mereka Memang dituntut Belajar, Mereka yg berotak encer, berkemampuan superstar, para calon penerus generasi bangsa. Generasi muda berbobot berkualitas.


senyum santri

Mereka (santri) dituntut dalam keseharian untuk belajar berjuang bekerja tanpa jeda, bahkan Mereka (santri) dituntut melayan Para Guru2 (ustadz/Ust.) mereka, Siap Siaga 24 jam.

Namun Mereka sadar, Semua itu dilakukan demi mendapatkan keberkahan dan kemamnfa'atan ilmu yg sedang dicarinya.

Sebuah Pondok Pesantren Besar di sebuah pedesaan terpencil di daerah kabupaten SUMEDANG. disitulah mereka tinggal. Tepatnya di Daerah Ujungjaya Kec. Ujungjaya kabupaten Sumedang.

Hari demi hari mereka (santri) belajar mencari ilmu manfa'at demi menempuh cita2 mereka menjadi calon penerus bangsa yang berkualitas, berkarakter, beriman dan bertaqwa.

Sebagaimana syekh Mustofa al-Ghalayaini seorang pujangga Mesir berkata : 


Sesungguihnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat

Senyum mereka selalu terlihat ceria walau beban yang mereka pikul sangatlah berat.


santri bernyanyi
Senyum mereka semakin terlihat ketika Pimpinan Pondok pesantren (ust. Ahmad Zahruddin @zhicunlee) Mengajak Mreka untuk Berkreasi mengikuti sebuah Workshop Bertajuk seni "Santri Bernyanyi" pada tanggal 18 april 2014.

Banyak Manfa'at yg mereka dapatkan pada acara tersebut. Acara tersebut Benar-benar positif. dimana para santri di ajak bagaimana caranya berda'wah melalui musik.

Acara tersebut bukan hanya belajar musik saja, bahkan Mereka (santri) di ajak bermain games seru "outbound training" sebuah metode pelatihan pengembangan sumber daya manusia atau pengembangan organisasi yang dilalukan melalui media permainan yang menambah Senyum Mereka (para santri) semakin Lebar.

Jumat, 21 Maret 2014

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis

Oleh : Usman Kusmana*

gaya hidup hadonis
Miris sekali, suatu sore saya menyaksikan tayangan berita infotainment, tepatnya acara fokus Selebritis di stasiun Global TV. Tayangan itu mengupas tentang kontroversi tarif dakwah para ustadz selebriti yang mematok harga tinggi, serta berbagai fenomena gaya hidup mereka yang terlihat hedonis dan demonstatif dengan kehidupan mewahnya.

Awalnya dipicu oleh sebuah kabar yang mengungkap tentang adanya seorang da’i/ustadz yang diundang oleh jama’ah pengajian mematok harga yang sangat tinggi bahkan harus memberi DP yang Jutaan agar dapat mengundang ustadz tersebut berceramah. Masalah itu diberitakan oleh salah satu media cetak nasional dan mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan termasuk MUI.

Dalam focus selebritis tersebut ditayangkan beberapa sosok da’i dan ustadz selebritis yang sering muncul di televisi, diantaranya Ust. Jeffry Al Buchori (Uje), Ust. Guntur Bumi, Ust. Soleh Mahmud (Solmed) lengkap dengan tayangan aktifitas hobby mereka yang suka mengendarai mobil mewah, motor gede, hingga hobby lainnya yang mencerminkan kehidupan mewah. Ditayangkan pula komentar Ketua MUI KH. Amidhan, lalu Ust. Yusuf Mansyur, Aa Gym, dan beberapa da’i lainnya yang memang jarang muncul di televisi.

Saya melihat konten dan hikmah yang dapat diambil dari tayangan tersebut dua hal : Pertama, Munculnya fenomena Ustadz selebriti dengan dua gaya hidupnya. Ada ustadz selebriti yang meskipun sering nongol dan berceramah di televisi, tapi mereka terlihat masih biasa saja, hidupnya sederhana, dan jarang sekali mengumbar kehidupan pribadinya. Sementara ada juga ustadz yang memang populer dan dipopulerkan oleh televisi dengan gaya hidupnya yang mewah dan sering muncul pemberitaan menyangkut kehidupan pribadinya. Berbagai aktifitasnya mengendarai motor gede, menembak, penampilan dan gaya hidupnya memang benar-benar mencerminkan selebritis.

Kedua, Munculnya pertanyaan dan gugatan dari publik, bagaimana sepatutnya seorang da’i itu menjalankan tugas dakwahnya, termasuk menjalani kehidupannya. Dan itu muncul dari komentar yang disampaikan MUI, FPI dan juga beberapa da’i serta masyarakat umum. Termasuk dalam hal tarif dakwahnya. Jika menyaksikan tayangan aktifitas beberapa ustadz selebritis itu, kita memang prihatin dan miris.

Tugas dakwah adalah tugas suci nan mulia. Seorang Da’i, Ustadz, ulama merupakan pewaris nabi yang dibebankan tugas untuk menyebarkan ajaran agama, yang menjadi tuntunan moral kehoidupan ummat agar hasanah fiddunyaa, hasanah fil akhirat. Seorang da’i atau ustadz tentu merupakan orang yang sedikit banyak memiliki pemahaman keagamaan, hafal dan mengerti ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Rasul. Selain itu tentu mereka juga menjadi sosok pribadi yang menjadi panutan, tauladan akan segala sikap dan tingkah lakunya. Apa yang mereka ucapkan dan lakukan tentu harus Nyunnah pada baginda Rasulullah SAW.

Rasul menjalankan misi dakwah dengan penuh pengabdian dan keikhlasan sebagai tugas suci dari Tuhan. Rasul menjalankan misi dakwah dengan uswatun hasanah. Satunya kata dengan perbuatan. Apa yang dikatakan dan didakwahkan oleh Rasul sebagai sebuah kebaikan, beliau merupakan orang pertama yang menjalankannya pun sebaliknya. Rasul mendakwahkan hidup sederhana, beliau merupakan orang yang paling pertama menjalaninya, bahkan rela mengikat batu diperutnya untuk berpuasa hingga tiga hari, karena roti yang seharusnya beliau makan diberikan pada orang yang kelaparan dan lebih membutuhkannya.

Dalam sebuah kisah yang sangat mengharukan, Anas bin Malik berkata, “Saya masuk menemui Rasulullah dan ia sedang berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering. Lalu beberapa orang dari sahabatnya datang diantaranya adalah Umar bin Khathtab, Rasulullah pun bangkit menggeser tubuhnya yang sedang terbuka bajunya. Umar bin Khaththab tak sanggup menahan tangisnya ketika melihat bentuk sulaman tikar yang membekas di tubuh bagian samping Rasulullah saw. Rasulullah saw bertanya, “Mengapa engkau menangis, Umar?

Umar menjawab, “Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat ?”Rasulullah saw bersabda, “Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?” Umar menjawab, “Ya, aku rela.” Rasulullah saw bersabda, “Begitulah yang benar”

Poinnya adalah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan teladan berupa hidup sederhana, hidup yang jauh dari bermewah-mewahan apalagi sampai dipertontonkan ke khalayak umum. Sepertinya perilaku Nabi SAW untuk hidup sederhana adalah hal yang paling enggan diteladani oleh para ustad seleb itu, jika kita menyaksikan bagaimana mereka memamerkan gaya hidup hedonis, pamer kemewahan, penampilan dan lain-lain. Mungkin para da’i selebritis itu tidak menyadari bahwa dengan status ustadz nya itu mereka dituntut untuk menjadi tuntunan, bukan semata-mata menjadi tontonan. Alangkah lebih baiknya jika kemunculan mereka dimedia semacam televisi itu dengan contoh dan tauladan sebagaimana Rasulullah ajarkan, sehingga diterima pesannya oleh seluruh ummat yang menyaksikan dari layar kaca.

Selain daripada itu, alangkah lebih baiknya, jika para da’i/ustadz/kiai/ulama/habib dalam berdakwah tak melulu mengukur dari hitungan materi. Menjadi da’i atau ustadz seharusnya tidaklah dijadikan profesi sebagaimana Pengacara, politisi atau profesional lainnya. Sangatlah na’if jika seorang da’i mematok tarif tinggi dalam aktifitas dakwahnya. Ada tugas suci yang dibebankan kepada mereka sebagai penyampai walaupun satu ayat, yang hubungannya langsung dengan Tuhan.

Alangkah indahnya jika mereka juga memberikan contoh dan emphaty pada ummat akan hidup yang sederhana, tidak hedonis dan demonstratif dengan gaya hidup mewahnya. Apalagi mereka sering di ekspose oleh media televisi. Karena ummat di bawah masih begitu banyak yang hidup dalam kubangan kemiskinan. Dan alangkah eloknya mereka juga tidak selalu mengumbar remeh temeh kehidupan pribadinya di layar kaca, dalam berita infotainment yang notabene secara hukum juga pernah difatwakan haram. Karena banyak mengumbar gosip dan isu seseorang yang tidak pantas.
Semoga tayangan di fokus selebritis itu bisa mengingatkan mereka. Bahwa sebagai seorang pendakwah mereka sebenarnya dituntut untuk memberi contoh, menjadi suri tauladan akan kehidupan yang lebih wajar dan mencerminkan kebarokahan. Bukan keberlimpahan, bukan berlebihan. Bukankah ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan ” Kabura Maktan Indallaah An taquuluuna maa laa taf’aluun” Sungguh besar murka Allah Tatkala engkau mengatakan sesuatu yang Engkau Sendiri tidak melakukannya. Naudzubillah…

*Penggiat di Komunitas Kajian Dokar’47, Kader Muda NU Kab. Tasikmalaya

Sumber : http://gp-ansor.org/

Senin, 17 Maret 2014

Mandi Junub (Al-ghuslu)

kawan senyum - Setelah beberapakali alfaqir menulis tentang Kajian Makalah Fiqih, yang mana beberapa Posting Sebelumnya mengenai  Ciri Baligh, Tata cara istinja, Tata cara Berwudhu dan lain sebagainya. Sekarang mari kita lanjutkan Kembali Muthola'ah Kajian Fiqih yang mana posting kali ini Tentang Mandi Junub

mandi


Mandi Junub (Al-ghuslu)


Mandi wajib atau mandi junub dalam bahasa Arab disebut al-ghuslu dan dalam ilmu fiqih ialah membasuh seluruh anggota tubuh dengan air disertai niat. Mandi Wajib dalam istilah lain disebut Mandi Junub biasanya ini dilakukan setelah berhubungan intim dengan pasangan hidup kita (suami istri), selain itu adapula saat setelah haid dan nifas bagi wanita, maka baginya wajib mandi

Yang Mewajibkan Mandi Junub

1 - Bersetubuh

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا اِلْتَقَى الخِتَانَانِ وَجَبَ اْلغُسْلُ (رواه مسلم )

Dari Aisyah ra, bahwa Rasulallah saw bersabda, “Jika dua alat kelamin telah bertemu, maka wajib mandi.” (HR Muslim).

2 - Keluar mani dengan bersetubuh, bermimpi atau onani


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا اْلمَاءُ مِنَ اْلمَاءِ (رواه الشيخان)

Rasulallah saw bersabda, “Sesungguhnya air dari air” (HR Bukhari Muslim).
Maksud dari hadits trb ialah tidak wajib seseorang menggunakan air untuk mandi kecuali jika keluar air mani

3 - Haid

Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ – البقرة ﴿٢٢٢﴾

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Qs al-Baqarah ayat: 222)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْش : إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي (رواه الشيخان)

Rasulallah saw berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy “Jika datang haid maka tinggalkanlah shalat dan jika telah pergi maka mandilah dan shalatlah” (HR Bukhari Muslim)

4 - Melahirkan (walaupun tidak keluar darah)

5 - Nifas (darah setelah melahirkan)

Wajib Mandi Junub

1. Niat

لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه الشيخان)

Sesuai dengan hadits sebelumnya, Rasulallah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal  perbuatan tergantung pada niatnya” (HR Bukhari Muslim)

2. Membasuh seluruh anggota tubuh dengan air

عَنْ جُبَيْر بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : تَذَاكَرْنَا الْغُسْلَ مِنْ الْجَنَابَةِ عِنْد رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ واله وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَمَّا أَنَا فَيَكْفِينِي أَنْ أَصُبَّ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثًا ثُمَّ أُفِيضُ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِي  (رواه الشيخان)

Dari Jubair bin Muth’im ra, ia berkata: kami menyebutkan mandi janabah di sisi Rasulallah saw, maka beliau bersabda: Adapun aku maka cukup bagiku menyiram di atas kepalaku tiga kali, kemudian menyiram ke seluruh tubuhku. (HR Bukhari Muslim).

Sunah Mandi Junub
  • Membaca bismillah (bukan bermaksud membaca al-Qur’an) disertai dengan niat
  • Mencuci kedua telapak tangan
  • Menghilangkan najis (cebok)
  • Berwudhu dengan sempurna
  • Membasahi sendi sendi
  • Menyiram kepala lebih dahulu
  • Menyiram seluruh tubuh dengan mendahulukan bagian anggota yang kanan kemudian yang kiri
  • Melakukannya tiga kali-tiga kali
  • Menggosok tubuh
  • Kadar air yang digunakan untuk mandi tidak boleh kurang dari satu sha’.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّهُ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاثَ حَفَنَاتٍ ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (رواه الشيخان)

Dari Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah saw jika mandi junub, beliau memulai dengan membasuh kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan. Setelah itu berwudu seperti wudhu untuk shalat lalu mengguyurkan air dan dengan jari-jari beliau memasukan air ke selah-selah rambut sampai nampak merata ke seluruh tubuh. Kemudian beliau menciduk dengan kedua tangan dan dibasuhkan ke kepala tiga cidukan, kemudian mengguyur seluruh tubuh dan (terakhir) membasuh kedua kaki beliau. (HR Bukhari Muslim).

عَنْ سَفِيْنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآله  وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ (رواه مسلم)

Begitu pula hadits dari Safinah ra sesungguhnya Nabi saw mandi junub dengan wadah ukuran satu sha’ dan berwudhu dengan wadah ukuran satu mud (HR Muslim)

Keterangan (Ta’liq):

-          Mud yaitu takaran sepenuh dua telapak tangan orang laki-laki sedang, kurang lebih 0.6875 kg air = 0.6875 liter air.

-          Sha’ yaitu takaran 4 Mud, kurang lebih 2.75 kg air = 2.75 liter air, berlainan dengan 1 sha’ beras = 2.75 kg = kurang lebih 3.50 liter beras.

Jadi kalau Rasulullah saw mandi junub dengan menggunakan ukuran 1 Sha’ air dan berwudhu dengan ukuran 1 Mud air berdasarkan hadits Safinah ra di atas, maka dapat dibayangkan betapa hematnya beliau menggunakan air untuk mandi dan berwudhu.

Larangan Bagi Orang Junub

1. Shalat

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طهُوْرٍ (رواه مسلم)

Sesuai dengan sabda Rasulallah saw “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci” (HR Muslim)

2. Thawaf

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إلَّا أَنَّ اللَّهَ أَبَاحَ فِيهِ الْكَلَامَ (رواه الترمذي و الحاكم الدارقطني)

Sesuai dengan sabda Rasulallah saw dari Ibnu Abbas ra: “Thawaf di Baitullah itu sama dengan shalat hanya saja Allah membolehkan dalam thawaf berbicara” (HR Tirmidzi, Hakim, Darquthni)

3. Menyentuh Al-Qur’an, karena ia adalah kitab suci, maka tidak boleh disentuh atau dibawa kecuali dalam keadaan suci.

Allah berfirman:

لاَّ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ – الواقعة ﴿٧٩﴾

 Artinya: “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Qs Al-Waqi’ah ayat:79) 

4. Membawa Al-Qur’an. Hal ini dikiyaskan dari menyentuh al-Qur’an

5. Membaca Al-Qur’an

عَنْ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ، وَلاَ الْحَائِضُ، شَيْئاً مِنَ الْقُرْآنِ (الترمذي و ابن ماجه و البهيقي و غيرهم وهو ضعيف)

Sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar, Rasulallah saw bersabda “Janganlah orang junub dan wanita haid membaca sesuatu pun dari Al Qur’an (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi dll, dhaif tapi bisa digunakan untuk pelengkap ibadah).

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَكُنْ يَحْجُبُهُ وَرُبَّمَا قَالَ : يَحْجُزُهُ عَنِ القُرْآنِ شَيْئٌ لَيْسَ الجَنَابةِ (حسن صحيح ابو داود و الترمذي والنسائي)

Hadits lainya dari Ali bin Abi Thalib ra sesungguhnya Rasulallah saw membuang hajatnya kemudian membaca al-Qur’an dan tidak menghalanginya dari pembacaan al-Quran, kemungkinan ia berkata: Bahwasanya menghalangi suatu dari membaca al-Qur’an selain junub (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasai’, hadist hasan shahih)

6. Duduk di Masjid

Allah berfirfman

لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ – النساء ﴿٤٣﴾


 Artinya: “janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja” (Qs An-Nisa’ ayat:43)


sumber : http://hasansaggaf.wordpress.com

Sabtu, 15 Maret 2014

Bidadari Hati

Berikut ini adalah SYAIR RINDU HATI BIDADARI

Bidadari Hati


Bidadari surga

Dia bukanlah ahli ibadah...
Namun disetiap harinya adalah
kebaikan-kebaikan...

Dia juga bukanlah ahli puasa...
Namun dia rela tak makan demi
orang lain dalam hidupnya...

Dia bukan wanita sempurna...
Namun dia wanita ruar biasa....

Yang memiliki cinta kepada
setiap insan yang dekat dengannya....

Yang memiliki kasih sayang
yang besar...
Kepada siapapun yang dikenalinya.....

Dia...
Walau jiwanya telah mati....
Namun dia tetap hidup di dalam hati....


@Bidadari-Hati...

Popular Posts