Featured Article
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

obat dan khasiat yg dihasilkan

obat dan khasiat yg dihasilkan
Obat hanya mengobati, tidak pernah menyembuhkan. Sebutan 'juru sembuh' bagi selain Alloh adalah kebodohan dan kesesatan.

Dalam bentuk pil, tablet, kapsul, kaplet, sirup atau apapun, obat itu benda mati, tak berdaya apalagi punya upaya. Mau masuk ke mulut kita saja harus kita yang mengantarkannya. Ketika kita membuangnya dan menginjak-injaknya dia diam saja: tidak berkutik. Ngapain kita tuhankan?

Khasiat, terambil dari bahasa Arab: khashiyyah. Artinya ketentuan Alloh terhadap sesuatu pada waktu, tempat, kondisi, kadar, racikan, dosis dan sugesti tertentu.

Ketika obat kita aksikan dengan segenap perhitungan dan pertimbangan yang dihasilkan oleh pengujian dan pembuktian manusia pada sekian pengulangan dan rentang waktu maka pada saat itu Alloh ciptakan reaksi-reaksi atas tubuh dan metabolisme-nya. Dan Alloh bisa saja menciptakan reaksi tidak seperti biasanya. Alloh tetap gagah perkara untuk berbuat semau-mau Dia. Alloh tidak butuh alasan apapun untuk berbuat apapun. Alloh juga tidak terikat oleh nilai kebaikan atau kebenaran karena Dialah pencipta kebaikan dan kebenaran.

Tidak ada seorang nabi atau waliyulloh merasa sakti mandraguna sedikitpun dan sedetikpun meskipun mukjizat dan karomahnya melimpah ruah selama hidupnya.

Minggu, 08 Juni 2014

Dari kata ke nyata betapa jauh jaraknya

Dari "kata" ke "nyata" betapa jauh jaraknya

succses
Banyak manusia sok tahu maka tidak mau belajar. Ilmu yang sudah menjadi konsensus pentingnya, perlunya, mulianya, agungnya, dahsyatnya dan setiap nama-nama indah yang disandangnya tetap saja tidak membuatnya tergoda.
Banyak pelajar dan pembelajar sok waras. Mendengar dan membaca cukup sekali dan sesekali saja. Begitu halusinasinya berfatwa. Padahal ketika ditanya ternyata hanya menyetorkan kegagapan jawaban. Sok cerdas sama sekali belum layak disandangnya.

Sebenarnya tamat SLTA saja cukup, kalau semua yang pernah didengar dan dibacanya tak satu pun yang terlupa. Tinggal mengolah dan mengelola bahan yang relatif lengkap itu. Doktor sekalipun kalau ia telmi dan pelupa jatuhnya ya penderita sakit ingatan.

Maka membaca dan mendengar kebenaran dan kebaikan mesti berkali-kali; lagi, lagi dan lagi.
Tahu dan hapal sesuatu belum tentu memahaminya apalagi berikut korelasinya dengan segala sesuatu yang lain. Maka perenungan dan penghayatan adalah keniscayaan.

Setelah kita paham tidak otomatis kita meyakini dengan mantap apa yang kita pahami itu. Untuk menjadi keyakinan, untuk menjadi energi gerak, untuk menjadi cahaya pencerah, ilmu kita wajib bersenyawa dengan kebeningan hati, kejernihan pikiran dan kestabilan mental. Karena, ternyata banyak sekali orang jenius menjadi otak kejahatan, gagal rumah tangga bahkan bunuh diri.

Ilmu memang perlu tapi lebih perlu lagi wahyu. Agamalah - dengan setiap Syariat, Thariqat dan Haqiqatnya - yang membuat ilmu itu menjadi cahaya pikiran, menjadi benih pohon yang tumbuh subur lalu bunga-bunganya mensemerbaki hati, dan buahnya kesejahteraan yang bahkan orang sekitarnya ikut menikmati. Maka AlQuran jangan hanya menjadi "kitab sunyi". Ia wajib seseringnya dibaca, digali, dikaji dan dijadikan aksi hati, serat benak, dan laku tubuh. Bukan sekedar bacaan.

Harap diingat pula bahwa para sahabat utama dibimbing hidup oleh Rasulullah shallallaaHu 'alayHi wa aaliHi wasallam dengan tempaan mental oleh berkali-kali perang mempertaruhkan nyawa, dengan asahan estetika bahasa Arab yang amat indah, dengan pengaruh akhlak keseharian makhluk terbaik, dan dengan sinar kenabian langsung selama hampir 23 tahun. Romantika dan dinamikanya sangat beraneka serta proses yang puanjaaang..!!

Harap tidak cuma(-cuma) membaca ini

Harap tidak cuma(-cuma) membaca ini :

ilusi tangan
1. Berdzikir pasti berfikir. Juga sebaliknya. Objek dan kualitasnya yang berbeda.

2. Panjang itu ya tinggi juga. Bedanya: no 1 berbaring , no 2 berdiri. Badan harus berganti nama jadi 'tubuh' ketika berbaring karena 'tinggi badan' jadi batal. Panjang tubuh saja.

3. Citra beda sama sekali dengan pencitraan. Citra adalah gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk. Pencitraan adalah niat busuk (baca: riya) seseorang untuk dipuja dipuji padahal kenyataannya jelek.

4. Tidak sombong itu belum tentu rendah hati (tawadldlu'). Orang sombong menderita sakit hati lantaran tidak dihargai apalagi dicacimaki. Orang yang tidak sombong dan tidak rendah hati tidak apa-apa tidak dihargai tapi menderita sakit hati saat dicacimaki. Si rendah hati tidak mempan dipuji atau dicacimaki bukan karena mati rasa hati tapi karena kesadaran dirinya yang tinggi.

Senin, 21 April 2014

Senyum Santri

Mereka Memang dituntut Belajar, Mereka yg berotak encer, berkemampuan superstar, para calon penerus generasi bangsa. Generasi muda berbobot berkualitas.

senyum santri

Mereka (santri) dituntut dalam keseharian untuk belajar berjuang bekerja tanpa jeda, bahkan Mereka (santri) dituntut melayani Para Guru2 (ustadz/Ust.) mereka, Siap Siaga 24 jam.

Namun Mereka sadar, Semua itu dilakukan demi mendapatkan keberkahan dan kemanfa'atan ilmu yg sedang dicarinya.

Sebuah Pondok Pesantren Besar di sebuah pedesaan terpencil di daerah kabupaten SUMEDANG. disitulah mereka tinggal. Tepatnya di Daerah Ujungjaya Kec. Ujungjaya kabupaten Sumedang.

Hari demi hari mereka (santri) belajar mencari ilmu manfa'at demi menempuh cita-cita mereka menjadi calon penerus bangsa yang berkualitas, berkarakter, beriman dan bertaqwa.

Sebagaimana syekh Mustofa al-Ghalayaini seorang pujangga Mesir berkata : 


Sesungguihnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat

Senyum mereka selalu terlihat ceria walau beban yang mereka pikul sangatlah berat.


senyum santri
Senyum mereka semakin terlihat ketika Pimpinan Pondok pesantren (ust. Ahmad Zahruddin @zhicunlee) Mengajak Mreka untuk Berkreasi mengikuti sebuah Workshop Bertajuk seni "Santri Bernyanyi" pada tanggal 18 april 2014.

Banyak Manfa'at yg mereka dapatkan pada acara tersebut. Acara tersebut Benar-benar positif. dimana para santri di ajak bagaimana caranya berda'wah melalui musik.

Acara tersebut bukan hanya belajar musik saja, bahkan Mereka (santri) di ajak bermain games seru "outbound training" sebuah metode pelatihan pengembangan sumber daya manusia atau pengembangan organisasi yang dilalukan melalui media permainan yang menambah Senyum Mereka (para santri) semakin Lebar.

Jumat, 21 Maret 2014

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis

Oleh : Usman Kusmana*

gaya hidup hadonis
Miris sekali, suatu sore saya menyaksikan tayangan berita infotainment, tepatnya acara fokus Selebritis di stasiun Global TV. Tayangan itu mengupas tentang kontroversi tarif dakwah para ustadz selebriti yang mematok harga tinggi, serta berbagai fenomena gaya hidup mereka yang terlihat hedonis dan demonstatif dengan kehidupan mewahnya.

Awalnya dipicu oleh sebuah kabar yang mengungkap tentang adanya seorang da’i/ustadz yang diundang oleh jama’ah pengajian mematok harga yang sangat tinggi bahkan harus memberi DP yang Jutaan agar dapat mengundang ustadz tersebut berceramah. Masalah itu diberitakan oleh salah satu media cetak nasional dan mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan termasuk MUI.

Dalam focus selebritis tersebut ditayangkan beberapa sosok da’i dan ustadz selebritis yang sering muncul di televisi, diantaranya Ust. Jeffry Al Buchori (Uje), Ust. Guntur Bumi, Ust. Soleh Mahmud (Solmed) lengkap dengan tayangan aktifitas hobby mereka yang suka mengendarai mobil mewah, motor gede, hingga hobby lainnya yang mencerminkan kehidupan mewah. Ditayangkan pula komentar Ketua MUI KH. Amidhan, lalu Ust. Yusuf Mansyur, Aa Gym, dan beberapa da’i lainnya yang memang jarang muncul di televisi.

Saya melihat konten dan hikmah yang dapat diambil dari tayangan tersebut dua hal : Pertama, Munculnya fenomena Ustadz selebriti dengan dua gaya hidupnya. Ada ustadz selebriti yang meskipun sering nongol dan berceramah di televisi, tapi mereka terlihat masih biasa saja, hidupnya sederhana, dan jarang sekali mengumbar kehidupan pribadinya. Sementara ada juga ustadz yang memang populer dan dipopulerkan oleh televisi dengan gaya hidupnya yang mewah dan sering muncul pemberitaan menyangkut kehidupan pribadinya. Berbagai aktifitasnya mengendarai motor gede, menembak, penampilan dan gaya hidupnya memang benar-benar mencerminkan selebritis.

Kedua, Munculnya pertanyaan dan gugatan dari publik, bagaimana sepatutnya seorang da’i itu menjalankan tugas dakwahnya, termasuk menjalani kehidupannya. Dan itu muncul dari komentar yang disampaikan MUI, FPI dan juga beberapa da’i serta masyarakat umum. Termasuk dalam hal tarif dakwahnya. Jika menyaksikan tayangan aktifitas beberapa ustadz selebritis itu, kita memang prihatin dan miris.

Tugas dakwah adalah tugas suci nan mulia. Seorang Da’i, Ustadz, ulama merupakan pewaris nabi yang dibebankan tugas untuk menyebarkan ajaran agama, yang menjadi tuntunan moral kehoidupan ummat agar hasanah fiddunyaa, hasanah fil akhirat. Seorang da’i atau ustadz tentu merupakan orang yang sedikit banyak memiliki pemahaman keagamaan, hafal dan mengerti ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Rasul. Selain itu tentu mereka juga menjadi sosok pribadi yang menjadi panutan, tauladan akan segala sikap dan tingkah lakunya. Apa yang mereka ucapkan dan lakukan tentu harus Nyunnah pada baginda Rasulullah SAW.

Rasul menjalankan misi dakwah dengan penuh pengabdian dan keikhlasan sebagai tugas suci dari Tuhan. Rasul menjalankan misi dakwah dengan uswatun hasanah. Satunya kata dengan perbuatan. Apa yang dikatakan dan didakwahkan oleh Rasul sebagai sebuah kebaikan, beliau merupakan orang pertama yang menjalankannya pun sebaliknya. Rasul mendakwahkan hidup sederhana, beliau merupakan orang yang paling pertama menjalaninya, bahkan rela mengikat batu diperutnya untuk berpuasa hingga tiga hari, karena roti yang seharusnya beliau makan diberikan pada orang yang kelaparan dan lebih membutuhkannya.

Dalam sebuah kisah yang sangat mengharukan, Anas bin Malik berkata, “Saya masuk menemui Rasulullah dan ia sedang berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering. Lalu beberapa orang dari sahabatnya datang diantaranya adalah Umar bin Khathtab, Rasulullah pun bangkit menggeser tubuhnya yang sedang terbuka bajunya. Umar bin Khaththab tak sanggup menahan tangisnya ketika melihat bentuk sulaman tikar yang membekas di tubuh bagian samping Rasulullah saw. Rasulullah saw bertanya, “Mengapa engkau menangis, Umar?

Umar menjawab, “Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat ?”Rasulullah saw bersabda, “Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?” Umar menjawab, “Ya, aku rela.” Rasulullah saw bersabda, “Begitulah yang benar”

Poinnya adalah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan teladan berupa hidup sederhana, hidup yang jauh dari bermewah-mewahan apalagi sampai dipertontonkan ke khalayak umum. Sepertinya perilaku Nabi SAW untuk hidup sederhana adalah hal yang paling enggan diteladani oleh para ustad seleb itu, jika kita menyaksikan bagaimana mereka memamerkan gaya hidup hedonis, pamer kemewahan, penampilan dan lain-lain. Mungkin para da’i selebritis itu tidak menyadari bahwa dengan status ustadz nya itu mereka dituntut untuk menjadi tuntunan, bukan semata-mata menjadi tontonan. Alangkah lebih baiknya jika kemunculan mereka dimedia semacam televisi itu dengan contoh dan tauladan sebagaimana Rasulullah ajarkan, sehingga diterima pesannya oleh seluruh ummat yang menyaksikan dari layar kaca.

Selain daripada itu, alangkah lebih baiknya, jika para da’i/ustadz/kiai/ulama/habib dalam berdakwah tak melulu mengukur dari hitungan materi. Menjadi da’i atau ustadz seharusnya tidaklah dijadikan profesi sebagaimana Pengacara, politisi atau profesional lainnya. Sangatlah na’if jika seorang da’i mematok tarif tinggi dalam aktifitas dakwahnya. Ada tugas suci yang dibebankan kepada mereka sebagai penyampai walaupun satu ayat, yang hubungannya langsung dengan Tuhan.

Alangkah indahnya jika mereka juga memberikan contoh dan emphaty pada ummat akan hidup yang sederhana, tidak hedonis dan demonstratif dengan gaya hidup mewahnya. Apalagi mereka sering di ekspose oleh media televisi. Karena ummat di bawah masih begitu banyak yang hidup dalam kubangan kemiskinan. Dan alangkah eloknya mereka juga tidak selalu mengumbar remeh temeh kehidupan pribadinya di layar kaca, dalam berita infotainment yang notabene secara hukum juga pernah difatwakan haram. Karena banyak mengumbar gosip dan isu seseorang yang tidak pantas.
Semoga tayangan di fokus selebritis itu bisa mengingatkan mereka. Bahwa sebagai seorang pendakwah mereka sebenarnya dituntut untuk memberi contoh, menjadi suri tauladan akan kehidupan yang lebih wajar dan mencerminkan kebarokahan. Bukan keberlimpahan, bukan berlebihan. Bukankah ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan ” Kabura Maktan Indallaah An taquuluuna maa laa taf’aluun” Sungguh besar murka Allah Tatkala engkau mengatakan sesuatu yang Engkau Sendiri tidak melakukannya. Naudzubillah…

*Penggiat di Komunitas Kajian Dokar’47, Kader Muda NU Kab. Tasikmalaya

Sumber : http://gp-ansor.org/

Jumat, 07 Maret 2014

Istilah USTADZ di Mata Orang Indonesia

Istilah USTADZ / UST di Mata Orang Indonesia…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ustadz
Kalau orang Indonesia ditanya, apa sih arti kata ustadz? Belum tentu ada yang paham. Masih lumayan kalau dia menjawab, “Ustadz itu artinya guru.” Ini masih lumayan meskipun sebenarnya masih terlalu general (polos).

Seperti halnya yg rame dibicarkan di beberapa Media. Gelar Ustadz atau Ust. diberikan kepada Ustadz Guntur Bumi, Ustadz Hariri dan lainnya. apakah mereka layak mendapat julukan ustadz.???

Banyak hal yang tidak kita pahami tentang istilah ustadz, sehingga kemudian menjadi salah kaprah. Masyarakat begitu mudah memberikan atau menyebut gelar ustadz tanpa memahami maknanya. Coba baca salah satu artikel ini:

Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis.

Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang sebenarnya (insya Allah), agar Anda semua tidak salah paham.

Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai GURU atau pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya.

Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.

Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.

Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.

Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.

Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.

Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.

Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.

Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?

Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Muhammad Abdul Baqi’, Ustadz Said Hawa, Ustadz Hasan Al Hudaibi, Ustadz Muhammad Assad, dan lain-lain.

Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis… Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.

Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yang semisal itu.

Adapun istilah Ustadz Selebritis, Ustadz Gaul, Ustadz Entertainis, Ustadz Komersil, Ustadz Panggung…dan lain-lain; semua ini tidak benar, ia bukan peristilahan yang benar. Derajat ustadz itu dekat dengan ulama. Itu harus dicatat!

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat ya. Allahumma amin.

http://abisyakir.wordpress.com/2012/06/25/istilah-ustadz-di-mata-orang-indonesia/

Selasa, 31 Desember 2013

Tahun Baru Semangat Baru

Tahun Baru Semangat Baru

Seringkali tahun baru di iringi dengan kegembiraan. tak aneh jika hampir semua orang merayakan tahun baru dengan hal yang dapat membuat hati riang gembira. " semangat...!!!

Arti Kata Tahun Baru

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia.

tahun baru 2014
Kembang api tahun baru di Bratislava
sumber : wikipedia

Tahun Baru 2014
Kemarin adalah kenangan besok ( kedepan ) adalah harapan
Setiap orang telah menjalani hari kemarin, akan menghadapi hari esok, dan sedang menghadapi hari ini.
Perayaan Tahun Baru kali ini cukup dengan merenung saja, melihat mereka yng merayakannya dan melihat kebelakang, karna di belakang sana masih banyak sisi kurang di banding dengan sisi kelebihannya. ya walaupun ada pepatah yang menyebutkan :
Semua manusia itu sama mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing.
Namun manusia cukup untuk mencoba memperbaiki kekurangan agar romantisme kehidupan sedikit terbuka.

Masa Lalu Telah Menjadi Sejarah

Mengingat masa lalu? boleh-boleh saja, bahkan mungkin bagi sebagian orang adalah keharusan. Tetapi ingat, apa yang sudah berlalu tidak dapat kita ubah. Apa yang kita lakukan, baik dan buruk, semuanya sudah terjadi. Semuanya telah tercatat menjadi sejarah hidup kita. Ada orang yang terus menerus menyesali masa lalunya sehingga dia tidak dapat menjalani hari ini dengan baik. Dia merasa orang yang telah berbuat kesalahan dan terus menerus dihantui oleh kesalahan itu. Ini sebenarnya yang menjadi problem.

Menyesali kesalahan adalah hal penting. Tapi jika apa yang telah terjadi terus menerus menjadi penghalang untuk berbuat sesuatu hari ini, maka dia menjadi masalah. Apa yang telah terjadi adalah pelajaran untuk diambil hikmahnya. Baik dan buruk yang telah kita lakukan harus menjadi pelajaran dalam menata diri kita hari ini dan hari ke depannya. Bukan berhenti di titik penyesalan itu.

Apa yang telah kita dapatkan di masa lalu merupakan bagian dari anugrah Allah yang harus disyukuri. Bukan untuk disesali. Mari perbaiki kesalahan di tahun lalu di tahun baru ini dengan semangat baru...

Langkah-langkah Menata Ulang Kehidupan Di Tahun Baru


1. Memiliki cita-cita atau mimpi serta tujuan hidup.

Cita-cita bisa setinggi langit, tapi tujuan hidup perlu lebih realistis.Tujuan hidup tak langsung bisa ditemukan begitu saja.

Diperlukan perenungan diri dalam waktu yang tidak singkat.

Tapi tujuan hidup ini penting sebagai panduan yang mengarahkan langkah kita selanjutnya.

2. Bekerja keras.

Cita-cita maupun tujuan hidup harus ditindak lanjuti dengan kerja nyata, kalau tidak mimpi tersebut akan pudar dan menghilang.

3. Menghadapi berbagai tantangan.

Memperlakukan berbagai kesulitan sebagai sesuatu yang menantang, bukan mengancam. Ini semua berkaitan dengan persepsi.

Kita perlu mengubah pandangan menjadi lebih optimistis.

Kita harus mempunyai kebanggaan dan kebermaknaan terhadap hal-hal yang kita miliki dan akan kita capai.

4. Bertahan.

Tidak cepat menyerah atau berhenti mencoba. Kita berupaya meyakini bahwa semua kesulitan, seberapa pahit dan sulitnya, pasti ada penyelesaiannya.

5. Meningkatkan energi.

Untuk mencapai stamina dan energi maksimal, kita perlu merawat diri agar sehat secara fisik dan mental. Ini dapat dilakukan dengan makan cukup dan benar serta berolahraga secara rutin.

6. Mengembangkan prinsip hidup yang bermoral dan etis.

Termasuk di sini prinsip menghargai dan toleran pada orang lain yang berbeda dengan diri kita, peduli pada lingkungan dan kesulitan orang lain, meyakini hukum ”makin banyak memberi kita akan makin banyak menerima”, serta tidak berpamrih dalam hubungan dengan siapa pun.

7. Menikmati dan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan.

Kita perlu terus latihan memanfaatkan waktu yang terbatas ini sebaik mungkin.

Sukses hidup berarti seimbang dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, berarti bisa memadukan aktivitas pribadi, pekerjaan, kesehatan, keluarga, sosial, dan spiritual.


Semoga langkah2 diatas cukup berguna untuk kita menghadapi Tahun Baru dengan Semangat Baru Yang Lebih Baik………..

Bagaimana dengan anda, sahabat? apa saja rencana2 resolusi ke depan di tahun 2014 ini? Dengan rendah hati, saya mohon  sahabat2 mau berbagi disini ………..

Tahun Baru 2014
Selamat Tahun Baru 1 Januari 2014

Selasa, 10 Desember 2013

Laki-laki menangis

Jangan Menangis - Ada kalanya Menangis itu memang memalukan. Ada kalanya juga terdapat beberapa Manfaat Menangis Bagi Kesehatan.

laki laki nangis

Laki-laki menangis

karena tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga.
Menjadi pengawal bagi ibu, saudara perempuan, istri dan anak-anaknya.

Tak dapat kau lihat tangisnya di bening bola matanya?
Tangis laki-laki adalah...
pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya.

Tak bisa kau simak tangisnya pada keluh kesah di lisannya?
Laki-laki menangis,…
dalam letih dan lelahnya menjaga keluarga dari kelaparan dan 'tega'nya dunia.

Tak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya?
Laki-laki menangis,…
pada tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnya angin malam.

Namun tidak ada tangisnya pada peristiwa-peristiwa kecil dan sepele.

Laki-laki menangis,…
dalam kemarahannya, jika kehormatan diri dan keluarganya diganggu, digugat….

Laki-laki menangis,…
dalam sigap bangunnya; sholat malam di kegelapan dini hari.

Laki-laki menangis,…
lewat cucuran peluhnya dalam menjemput rezeki.

Laki-laki menangis,…
dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya.

Dan juga, …
Laki-laki pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya di kesendiriannya…
menyadari tanggung jawabnya yang besar di hadapan Allah.

Pandanglah Ayah! Pandanglah Suami!
Disaat air matanya berderai-derai...
itu tanda bahwa dia sesungguhnya telah lelah berpikir…
Akalnya sedang tak mampu diajak kompromi.
Lalu terjadilah…
logikanya yang terkalahkan oleh rasa.
Tangisannya adalah kelegaannya bahwa...”saya masih ada untuknya”.

Sesungguhnya syurga ada di dalam keridhaan Allah terhadap pria yang telah berusaha menjadi Khalifah di keluarganya.

Benarkah? Semoga.

Selasa, 16 Juli 2013

Kenali Tujuh Hijab Hati

tentang hati
ilustrasi
Assalaamualaikum wa rahmatullaahi wa barakatuhu

Sahabatku, mari kita kenali tujuh hijab hati agar kita dapat menjauhinya:

  1. "Azzunub", tumpukan dosa tanpa diiringi dengan kesungguhan bertaubat
  2. "Alwasikh" banyak makan dan minum haram
  3. "Aljahlu" sangat pintar ilmu dunia tetapi bodoh dan malas belajar Islam
  4. "Alhawa tutbau" Nafsu yang diperturutkan terus menerus, seperti minum air laut yang kesannya menghilangkan dahaga
  5. "Hubbuddunya", terlalu cinta dunia sehingga tidak peduli lagi halal dan haram
  6. "Alzhulmu" banyak orang yang telah disakiti
  7. "Asysyaithoonu rookibuhu" karena semua hal-hal tersebut diatas (1 s/d 6), maka dengan mudah syetan menundukkannya sampai tidak sadar manusia itu dalam kesesatan (QS 7:175).
Allahumma ya Allah bersihkan hati kami dari semua dosa, sombong, munafik, riya, ujub, berbagai penyakit, hijab hati dan ranjau syetan... Aamiin".


Redaktur : Slamet Riyanto
dikutip ulang oleh Senyumku Dakwahku

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/11/28/md9zqd-kenali-tujuh-hijab-hati

Selasa, 23 April 2013

Menjadi Pribadi yang Lembut


sosok ayah yg penyayang

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…” (Qs Ali Imran 159)

Kata kunci dari surah Ali Imran ayat 159 di atas ialah ‘rahmat’ Allah. Rahmat yang secara etimologi berarti kasih sayang Allah, meliputi segala yang ada di langit dan bumi. Dengan rahmatNya, Allah menciptakan bumi dengan segala isinya untuk khaliifah fil ardh dan untuk semua makhluk yang mendiami bumi.

Jika bukan dengan rahmatNya tersebut, kita takkan pernah bisa bertahan di bumi dalam kondisi yang kosong tanpa isi. Dengan rahmatNya pula, Dia mengirimkan seorang Nabi, pembawa risalah suci, pengubah jahiliyah menjadi islami, dengan segala kesabaran dan keteguhan hati yang ia miliki, Rasulullah Saw yang perjalanan dakwahnya yang diawali dengan jalan terjal berupa penolakan dan cacian, tak lantas membuat Al-Amiin ini berputus asa dari rahmatNya.

Bersabar selama puluhan tahun di Makkah dan belasan tahun di Madinah, membuat perjalanan dakwah yang sebelumnya dihujani penolakan bahkan usaha untuk membunuh beliau, berangsur-angsur berbuah manis. Tak heran jika Michael H Hart dalam bukunya The 100 a Ranking of The Most Persons in History menilai Nabi Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal sprititual dan kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egois, barbar, terbelakang, terpecah belah oleh sentiment kesukuan menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran, bahkan sanggup mengalahkan pasukan romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia dalam pertempuran.


Semua hal di atas bukan disebabkan Nabi Muhammad kuat secara ekonomi, yang kita tahu Nabi Muhammad hidup sebagai seorang yang paling sederhana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits manakala beliau tidak menemukan makanan, maka hari itu beliau ikhlas berpuasa karena Allah. Bukan juga kekuatan secara fisik semata. Namun, kekuatan itu bersumber dari kelembutan hati beliau sebagai bukti rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.

Lanjutan Qs Ali Imran di atas, seandainya saja Rasulullah berlaku keras lagi kasar, maka tentulah orang-orang kafir akan menjauh dari beliau dan tentu saja, amanat Allah untuk menjadikan islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, tidak akan pernah berhasil. Tentang kekerasan, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutusku bukan untuk melakukan kekerasan, tapi untuk mengajar dan memberikan kemudahan,” (HR Ahmad) atau dalam hadits lain, “Sesungguhnya Allah Maha Lemah Lembut.

Melalui kasih sayang Allah akan banyak mendatangkan hal positif, tidak seperti halnya kekerasan,” (HR Muslim) Ada contoh sederhana dan semoga kita dapat belajar dari teguran Rasulullah untuk Aisyah.

Suatu hari, beberapa orang yahudi bertandang ke kediaman Rasulullah, lalu mereka mengucapkan salam namun diplesetkan menjadi “Assamu ‘Alaikum,”, maka, dengan geram Aisyah menjawab, “Alaikum wa La’anakumullah wa Ghadiballahu Alaikum) yang artinya semoga laknat dan murka Allah menimpa kalian. Lalu, Rasulullah Saw pun menegur, “Berlaku lemah lembutlah wahai Aisyah, janganlah berkata keras lagi kasar,” (HR Bukhari)


Redaktur : Heri Ruslan
suorce : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/04/23/mloiwf-menjadi-pribadi-yang-lembut

Rabu, 31 Oktober 2012

Keteladanan Sang Pemimpin

Keteladanan Sang Pemimpin
Oleh: Ummu Faqih

Wajah Umar bin Khattab terlihat murung. Ekspresinya menggambarkan seseorang yang terkena musibah dan menanggung beban amat berat.

Hari itu adalah hari pengangkatannya sebagai khalifah, menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq yang telah wafat. Tidak terlihat wajah kegembiraan terkait terpilihnya dia sebagai khalifah. Itu terlihat dari pidatonya.

"Hai umat Muhammad! Saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya menjadi orang yang terbaik di antara kalian, orang yang terkuat bagi kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan."

Tidak ada yang lebih membebani pikiran Umar selain bagaimana melaksanakan amanah kepemimpinan ini dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak. Suatu pemandangan yang tidak biasa kita lihat bahwa ada seseorang yang terpilih menjadi penguasa, namun merasa ketakutan dan bersedih.

Kondisi sebaliknya justru yang sering kita lihat. Seseorang yang terpilih sebagai penguasa terlihat sangat senang dan merasa bersyukur atas keterpilihannya.

Sesungguhnya amanah kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat berat. "Sesungguhnya seorang penguasa adalah pengurus (urusan rakyatnya) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR Muslim dan Ahmad).

Tanggung jawab seorang pimpinan terhadap rakyatnya adalah menjamin semua urusan individu rakyatnya terpelihara dengan baik. Umar bin Khattab sangat khawatir jika sampai ada keledai yang terjatuh di jalanan akibat jalan yang berlubang. Karena itu, ia segera memperbaikinya.

Keadilan dan kesederhanaan adalah hal yang melekat pada sosok kepemimpinan Umar. Di saat penguasa lain tinggal di istana dengan singgasana dan kehidupan yang mewah, Umar hidup di rumah sederhana di antara gang-gang kecil dengan pakaian sederhana.

Umar sangat hati-hati dalam membelanjakan harta negara. Dia mematikan lampu minyak di ruangan kantornya, ketika anaknya mengunjunginya di malam hari untuk membicarakan masalah keluarga. Umar sungguh khawatir dia menghabiskan minyak lampu yang berasal dari uang rakyat ketika sedang membicarakan masalah pribadi bersama anaknya.

Sikap penguasa yang amanah terlahir dari keimanan yang kuat. Sebagai salah satu sahabat yang telah dijamin Rasulullah SAW masuk surga, kekuatan iman Umar tidak diragukan. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu menghisab dirinya atas apa yang sudah dilakukannya sepanjang hari. Umar berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab)."

Umar telah mengajarkan kepada kita semua, kepada para pemimpin dan calon penguasa, untuk senantiasa berpegang teguh pada aturan yang telah digariskan dalam menjalankan roda kepemimpinan. Dengan cara seperti itu, diharapkan Sang Pemilik Alam Semesta juga akan senantiasa melindungi dan menolong para pemimpin dalam menjalankan amanah yang diberikan. Wallahu a’lam.

#copasmania : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/27/mcjpap-keteladanan-sang-pemimpin

Jumat, 05 Oktober 2012

5 Kelemahan Yang Dimiliki Oleh Umat Manusia

Kupas Tuntas - Dibalik kelemahan tersimpan kekuatan. Demikian hukum kesetimbangan menyatakan. Dengan hukum itu kita percaya bahwa kekuatan kita justru terletak pada kelemahan yang kita miliki. Makanya dalam sebuah wawancara kadang ditanya apa kelemahan kita. Sang pewawancara tidak terlampu ingin tahu apa sebenarnya kelemahan itu. Dia justru ingin tahu cara kita menyikapi kelemahan yang kita miliki, lalu bagaimana kita mengubahnya menjadi kekuatan. Keterampilan memahami kelemahan dan mengubahnya menjadi kekuatan ini bukan hanya cocok dalam proses wawancara, melainkan dalam cara kita menjalani kehidupan kita. Jadi, sudahkah Anda memahami  kelemahan terbesar Anda? Dan sudahkah Anda mengubahnya menjadi kekuatan?

merubah pribadi

Sebagai pribadi, Anda dan saya mempunyai kelemahan masing-masing. Mungkin kelemahan yang sama. Mungkin juga berbeda. Namun sebagai sesama manusia; saya, Anda dan mereka mempunyai common weaknesses atau kelemahan umum yang dimiliki oleh semua umat manusia. Kelemahan manusia ditandai dengan adanya hal-hal yang tidak bisa dilakukannya. Namun jika kita bisa mengubah semua kelemahan itu menjadi kekuatan, maka kita bisa menampilkan diri sebagai ‘mahluk sempurna’. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengubah kelemahan menjadi kekuatan; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini: www.sang-tuyul.blogspot.com

1. Manusia tidak bisa selamanya melakukan kesalahan. Jika kita dituntut untuk terus melakukan kesalahan, pasti kita tidak akan bisa. Mengapa? Karena dalam proses penciptaan kita, Tuhan telah mengilhamkan kebaikan dan keburukan sebagai satu paket yang utuh. Meskipun kita berusaha keras untuk terus melakukan kesalahan itu, tetapi hati kita akan selalu mengingatkan untuk tidak melakukannya. www.sang-tuyul.blogspot.com

Anda tidak akan mungkin melakukan kesalahan terus secara sempurna. Karena hati Anda akan selalu mengingatkan untuk melakukan tindakan dalam koridor kebenaran. Guru kehidupan saya mengingatkan; ‘maka beruntunglah orang-orang yang rajin membersihkan jiwanya. Dan rugilah orang-orang yang terus menerus mengotorinya’. Sebagai manusia sempurna, ukuran nilai diri kita ditentukan oleh tindakan mana yang paling banyak kita lakukan. Kesalahan-kah? Atau kebenaran? Namun jika ingin menjadi orang yang beruntung,  maka kita butuh melakukan lebih banyak tindakan berisi kebenaran. Karena kebenaran membawa jiwa kita kedalam kesucian.

2. Manusia tidak bisa hanya disuruh-suruh saja. Office boy kadang disebut juga sebagai ‘pesuruh’. Ada seorang ‘pesuruh’ yang mengajari saya dengan baik fakta bahwa manusia itu memang tidak bisa disuruh-suruh. Sang ‘pesuruh’ ini selalu mempunyai argumen bagi orang yang menyuruhnya sehingga dia tidak selalu benar-benar menjadi ‘pesuruh’. Misalnya, jika seseorang menyuruhnya membeli nasi goreng bisa saja dia datang dengan nasi padang.

Jika sang ‘penyuruh’ protes, maka sang pesuruh ini dengan ringannya mengatakan;”Susah cari nasi goreng siang-siang, Bu. Lagian tidak sehat kalau Ibu makan nasi goreng siang-siang" Fakta bahwa manusia mempunyai ‘will’ atau kehendak menunjukkan bahwa Tuhan memang tidak menciptakan kita untuk menjadi mahluk yang hanya disuruh-suruh. Kita adalah mahluk dengan inisiatif. Makanya, jika kita masih harus disuruh-suruh; mungkin kita belum menjadi manusia secara utuh. Karena manusia yang utuh, tidak bisa hanya disuruh-suruh.
3. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari rasa cinta. Bisakah Anda menyebut nama seorang manusia yang hidupnya tidak mengenal rasa cinta? Cinta kepada sesama manusia. Cinta kepada harta. Cinta kepada pangkat dan jabatan. Cinta kepada benda-benda. Tidak ada manusia yang tidak punya rasa cinta, bukan? Hal ini menunjukkan bahwa cetak biru penciptaan manusia sudah memasukkan unsur cinta kedalamnya sehingga kita membutuhkan penyaluran rasa cinta itu. www.sang-tuyul.blogspot.com

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana, kepada siapa dan seberapa banyak kita mencurahkan perasaan cinta itu. Jika penyaluran rasa cinta itu tersumbat, maka hidup kita akan terasa hampa. Sebaliknya dengan penempatan rasa cinta yang tepat, maka hidup kita akan semakin terasa indah dan penuh warna. Mengapa? Karena siapapun kita, tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari rasa cinta.

4. Manusia tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada orang lain. Sebutkan satu saja kebutuhan hidup Anda yang bisa dipenuhi oleh diri Anda sendiri. Tidak ada. Hidup kita dikelilingi oleh benda-benda atau hal-hal yang disediakan oleh orang lain. Saya? Bagaimana mungkin bisa bersemangat untuk menulis jika tidak ada orang-orang seperti Anda yang berkenan membacanya.

Anda? Tidak mungkin bisa memperoleh pakaian indah yang saat ini sedang Anda kenakan jika tidak ada petani kapas, buruh pabrik tenun, tukang jahit dan orang-orang tak dikenal lainnya yang berkontribusi kepada kenyamanan hidup Anda. Nasi yang kita makan. Bis yang kita tumpangi. Kursi yang kita duduki. Jabatan yang kita sandang. Semuanya ada karena keterlibatan orang lain. Tanpa mereka sungguh, kita menjadi tidak berdaya. Mengapa? Karena sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada orang lain.

5. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan. Kita memang mengenal istilah ‘atheis’ atau orang-orang yang pada masa jayanya mempertanyakan keberadaan Tuhan. Namun, sejarah mencatatkan bahwa Hitler sang diktator zaman modern paling berkuasa pun mengakhiri hidupnya karena akhirnya dia mengakui bahwa ada kekuatan mutlak lain yang kekuasaannya bukan sekedar menyaingi dirinya, melainkan meliputi seluruh jagat raya.

Sejarah juga mencatatkan bahwa Fir’aun sang diktator zaman klasik yang mengejar Musa pun akhirnya mengakui keberadaan Tuhan tepat ketika gelombang laut melibas, menghempas, dan menenggelamkan dirinya. Ketika sedang berada dalam kesulitan, Anda bergumam;”Ya Tuhan” Meskipun ketika sedang bahagia kita sering lupa kepada Tuhan, tetapi ada saat dimana  hati kita kembali mengingatkan bahwa kita, tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan.

Catatan: Uraian diatas hanya membahas kelemahan manusia secara kolektif. Kelemahan kita sebagai individu? Biarkan kita masing-masing yang menelusurinya. Kita bisa mengingkari semua kelemahan yang kita miliki. Namun, kita juga bisa memilih untuk mengakui, memahami, dan menerima kelemahan itu sejujurnya. Kemudian mengubahnya menjadi kekuatan yang bisa meningkatkan nilai diri kita sendiri. Karena makna kesempurnaan manusia terletak pada kombinasi antara apa yang dimilikinya, dan apa yang tidak dimilikinya. Maka bersyukurlah atas apa yang kita miliki. Dan bersyukurlah atas apa yang tidak kita miliki. Karena kedua kutub itulah yang menjadikan kita manusia seutuhnya. Alhamdulillah.

Sumber : didunia.net

Rabu, 20 Juni 2012

Hubungan Manusia dan Alam Semesta

Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam yang memiliki kapasitas untuk menyandang predikat khalifah Tuhan di muka bumi. Makhluk dengan kedudukan agung ini akan sangat merugi jika mencintai dunia secara berlebihan dan melalaikan posisi tingginya di jagad raya ini. Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Abu Said Abul Khayr, seorang tokoh sufi Persia, "Dimana engkau mencari Tuhan?" Abu Said menjawab, "Di tempat mana engkau telah mencari Tuhan dan tidak menemukan-Nya?"

Manusia berusaha mengenal dirinya dan mengenal alam semesta. Ia ingin lebih tahu siapa dirinya dan bagaimana alam semesta. Dua jenis pengetahuan ini menentukan evolusi, kemajuan dan kebahagiaannya. Agama mengajak manusia untuk mengenal dirinya. Pokok-pokok ajaran agama adalah kenalilah dirimu agar engkau tahu Tuhanmu dan jangan melupakan Tuhanmu agar kamu tidak lupa akan dirimu. Imam Ali as mengatakan, "Semoga Allah merahmati manusia yang tahu asal-usulnya, tahu keberadaan dirinya, dan tahu hendak ke mana dirinya."

Seorang arif berkata bahwa maksud dari mencari Tuhan bukanlah engkau menemukannya, tapi engkau harus menyelamatkan dirimu dari kelalaian dan mengenal dirimu sendiri. Pengenalan manusia merupakan sebuah jalan untuk mengenal Tuhan dan pada dasarnya, jalan mengenal Tuhan akan melewati gerbang pengenalan manusia itu sendiri. Imam Ali as berkata, "Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya". Dengan kata lain, barang siapa yang telah mengenal dirinya tentang bagaimana makhluk yang rendah ini bisa menggapai kesempurnaan, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sebab, manusia mengetahui bahwa selain Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak ada makhluk lain yang bisa mengantarkannya dari segumpal mani menuju kesempurnaan.

Manusia dapat mengenal Tuhan dengan sifat Jamaliyah (keindahan) dan Jalaliyah (Keagungan) dengan cara tafakkur, perenungan, dan penyelaman terhadap dirinya sendiri. Imam Ali as berkata, "Barang siapa yang telah mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya dan karena ia telah mengenal Tuhan, maka ia telah sampai pada ilmu dan pengetahuan tentang seluruh keberadaan."

Tujuan utama ilmu agama dan filsafat adalah mengenal manusia dan alam semesta serta hubungan keduanya dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, pengenalan terhadap berbagai dimensi dan karakteristik manusia akan mendekatkan seseorang pada asal mula penciptaan dan tujuan dasarnya. Rasul Saw bersabda, "Orang yang paling tahu tentang dirinya, maka ia adalah orang yang paling mengenal Tuhannya." Dikisahkan bahwa seorang sufi berkata kepada sahabatnya demikian, "Wahai Tuhan, kenalkanlah diri-Mu kepadaku." Sementara aku berkata, "Wahai Tuhan, kenalilah aku pada diriku sendiri."

Hubungan manusia dan alam semesta merupakan sebuah tema penting filsafat. Dengan kata lain, itu adalah sebuah masalah yang sangat esensial bagi manusia, dimana ia menyimpan potensi besar dalam dirinya. Mereka yang mengkaji tema-tema Ilahiyat dan ingin mengetahui hubungan antara makhluk dan khalik, atau mereka yang ingin mengenal dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ingin mempelajari metode kehidupannya baik itu dalam dimensi individu, sosial atau bahkan universal, maka mereka akan berurusan dengan masalah manusia dan alam semesta. Jika masalah ini terpecahkan, kebanyakan dari problema umat manusia akan terselesaikan.

Menurut kebanyakan orang, manusia adalah manusia dan alam semesta adalah alam semesta. Padahal, ada hubungan yang sangat erat dan penuh makna antara manusia dan alam semesta. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki ikatan abadi dengan seluruh dimensi alam. Seluruh bagian dan gerakan di alam memiliki hubungan satu dengan yang lain. Ada ikatan erat antara karakteristik dan fenomena-fenomena di alam ini.

Segala sesuatu memiliki sebuah tampilan eksternal dan juga dimensi internal. Mungkin saja sesuatu terlihat kecil secara lahiriyah, tapi dari segi batin sangat besar atau sebaliknya yaitu, mungkin saja sesuatu tampak besar secara lahiriyah, namun dari segi batin sangat kecil. Alam penciptaan juga seperti itu. Alam secara lahir tampak besar dan agung, tapi pada dasarnya adalah kecil dan mungil dari segi batin. Sementara manusia terlihat kecil dari sisi lahiriyah, namun pada dasarnya adalah besar dan luar biasa. Imam Ali as berkata, "Apakah kalian mengira bahwa kalian hanya tubuh kecil ini, padahal kalian adalah alam yang sangat besar."

Pada kenyataannya, manusia adalah model eksklusif dari seluruh makhluk hidup dan bahkan dapat disimpulkan bahwa jejak dan tanda-tanda dari seluruh makhluk di alam semesta ada dalam diri manusia. Segala sesuatu yang ada di alam, pada dasarnya juga terdapat dalam diri manusia. Oleh karena itu, jika kita mengamati diri dan alam sekitar dengan seksama, maka kita akan menemukan sebuah hubungan yang rumit antara diri kita dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Seorang filosof Muslim, Mulla Shadra mengatakan, "Manusia sempurna adalah manusia yang menyelaraskan dirinya dengan seluruh ketentuan-ketentuan Ilahi."

Kenyataan bahwa semua makhluk, dengan segala keterbatasan, merupakan tanda-tanda akan kesucian, keindahan, ilmu pengetahuan, hidup, dan kesempurnaan lainnya dari Tuhan. Seluruh makhluk tanpa terkecuali, diharuskan untuk memuji dan mengagungkan Tuhan, dan berdasarkan hal tersebut, Mulla Sadra percaya bahwa semua atribut kesempurnaan seperti hidup dan pengetahuan, beredar pada semua makhluk di seluruh alam raya.

Setiap wujud di alam ini pada level keberadaan manapun, memiliki semua sifat kesempurnaan. Setiap wujud memiliki kehidupan, pengetahuan, kekuatan, kasih sayang, cinta… sesuai dengan kadar keberadaannya. Sifat-sifat kesempurnaan mengalir di segenap makhluk alam ini baik yang material maupun yang tidak. Sebagai bentuk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia mengemban amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar yang tidak dapat diterima makhluk lain. Manusia adalah perantara antara Pencipta dan makhluk lain mulai dari yang teratas (Tuhan) ke yang terbawah dari seluruh ciptaan-Nya.

Melalui manusialah kesempurnaan dan rahmat turun ke bumi; dalam perjalanan menuju Tuhan, melalui manusialah seluruh alam raya dapat menggapai Tuhan; dengan kata lain, manusia adalah penjaga alam, pemelihara, dan penyebab kehidupan di dalamnya. Bagaimanapun juga, sangat menarik bahwa manusia yang sama juga mencari bantuan dari alam dalam pendakiannya dan pergerakan ke atas menuju Tuhan; kesempurnaanya tidak mungkin tanpa alam dan isinya.(IRIB  Indonesia)


Sumber : http://indonesian.irib.ir/artikel1/-/asset_publisher/7xTQ/content/id/5208299

Minggu, 13 Mei 2012

Jadikan Aku Salah Seorang Penduduknya

Segala puji hanya bagi Allah tuhan semesta alam, Engkaulah yang mengatur hidup dan kehidupan. Hanyalah Engkau yang menguasai seluruh kekuasaan, Engkau anugerahkan kekuasaan bagi yang Engkau kehendaki. Engkau cabut hak berkuasa dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang engkau kehendaki, di tangan-MU ya Robbi segala kebaikan, Engkaulah yang berkuasa atas segala sesuatu.

pas Bunga
Sudah seharusnya kita sadari, hakekat penciptaan kita sebagai hamba. selayaknya kita melakukan apa yang telah ditetapkan dalam ajaran islam, yaitu beribadah. Namun apa yang terjadi? Ketika datang seruan dari Allah untuk taat dalam ibadah, untuk jihad, untuk Amar ma'ruf nahi munkar, (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar), kita lemah sekali merespon seruan itu, seperti apakah kita ini .....?

Layaknya manusia Normal Ingin segala sesutunya menjadi yg terbaik, Baik dalam Kehidupan ataupun di penghujung hayat akhirat kekal Abadi.

Mungkinkah semua impian atau keinginan menjadi yang terbaik dapat terkabul (terlaksana/tercapai)...???
Tentu saja Bisa !!! Namun apa yang ditanam itulah yang dipetik - apapun yg diperbuat maka itulah yang akan dipetik (diterima) hasilnya. 

Keinginan menjadi penghuni surga tidak cukup hanya berdo’a, tapi kita harus berusaha memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia ini.

Begitu banyak janji surga bagi orang-orang yg ingin dan mau bersusah ber-i'tiqad dan sungguh-sungguh dalam Menjalankan perintah Allah dan Menjauihi larangan-larangan Allah subhanahu Wata'ala...
** Jadikan Aku Salah Seorang Penduduknya **

Berislam - Beramal Ilmiah Berilmu Amaliah sebuah konsep kebahagiaan nyata di alam dunia untuk menjemput janji surga di akhirat nanti....

Surga sebagai tempat yang menakjubkan dan penuh kenikmatan di dalamnya..

Nikmat Dalam Surga


surga
Bagi penduduk surga makanan dan minuman dalam surga disediakan makanan dan minuman yang sesuai dengan selera dan keinginan mereka. Makan dan minuman yang di inginkan penduduk surga langsung tersaji tidak perlu di masak terlebih, mereka langsung menikmati dan tidak mengandung unsur kekurangan.
** Semoga aku di jadikan salah seorang penduduknya **

Makan dan minuman dalam surga itu tidak menjemukan, apalagi sampai menimbulkan penyakit dan makanan yang mereka konsumsi tidak menimbulkan kotoran, berarti penduduk surga tidak membutuhkan buang hajat, karena dalam surga tidak ada WC atau toilet, tetapi pembuangannya hanya melalui keringat yang harumnya beraroma kasturi. Mengenai makanan dan minuman di dalam surga, Allah ta'alat. telah berfirman:
"Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa yang mereka minta." (QS. Yaasiin: 57)
Didalam ayat lain disebutkan bahwa di dalam surga terdapat pohon pisang yang buahnya bersusun-susun.
Allah ta'ala. berfirman:
"Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya." (QS. Al Waqi'ah: 28-33)
Mengenai pohon dan buah surga itu Ibnu Katsir berkata: 
"Apabila keadaan pohon Sidr yang didunia tidak berubah, kecuali buah lemah dan banyak durinya, makan di surga pohon itu sangat indah dan banyak buahnya. Bahkan satu buah mengeluarkan 70 macam rasa dan warna-warni yang sebagian menyerupai sebagian yang lain.
Diriwayatkan dari Tsauban bahwa pada suatu ketika seorang Yahudi bertanya kepada Rasulullah,: "Apakah hidangan para penghuni surga ketika masuk surga?" Nabi Salallahu 'alaihi wasallam. menjawab: "Hati ikan (yang terbaik dan terlezat)." Ia bertanya lagi: "Apakah makanan mereka sesudah itu?." Nabi Salallahu 'alaihi wasallam. menjawab: "Disembelih bagi mereka sapi surga yang makan dari tanamannya." Orang itu bertanya lagi: "Apakah minuman mereka sesudah itu?" Nabi Salallahu 'alaihi wasallam. menjawab: "Dari mata air yang bernama Salsabil." Orang itu berkata: "Engkau berkata benar." (HR. Muslim)
Demikianlah gambaran tentang surga dan segala kenikmatan yang ada padanya. Dan mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Amin

Rabu, 09 Mei 2012

Kenali Dirimu Dari Caramu Menatap Orang Lain

Akhina Waukhtina Fillah.
Kita semua pasti sering menghadapi apa itu perbedaan, entah itu perbedaan pandangan, perbedaan pendapat, atau pun perbedaan keyakinan.

Lihat diri sendiri sebelum menilai orang lain.

critic
Sumber gambar : google.blogspot
Sebelum kita menilai atau merendahkan orang lain, maka sebaiknya kita menilai diri sendiri dahulu. Sudahkah apa yang kita lakukan ini lebih baik dari mereka, pantaskah kita ini merendahkan orang lain. Dan terkadang justru kita lah yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka. Untuk itu sebelum kita understimate pada orang lain, lihat dulu pada diri kita sendiri. Karena bila kita mengetahui mereka yang telah kita rendahkan ternyata lebih baik dari kita, maka kita sendiri lah yang akan menjadi malu. 
Karenanya, janganlah understimate pada orang lain, karena mereka bisa saja lebih baik dari kita, dan itu hanya akan membuat kita lemah menghadapi perbedaan. Jangan pernah meremehkan sesuatu, karena nantinya sesuatu tersebut akan menjadi besar karena kita tidak menanggapinya dengan serius. Ini seperti meremehkan orang lain yang berbeda dengan kita, tentu kita akan merasa lebih baik dari mereka sehingga apa yang kita lakukan tidak sebaik dari biasanya. Tetapi sebaliknya, orang lain yang kita remehkan tadi malah akan melakukan sesuatu dengan yang sebaik-baiknya karena merasa kalau mereka belum baik. Sehingga bisa jadi apa yang mereka lakukan jauh lebih baik dari apa yang kita lakukan.

Kenali Dirimu Dari Caramu Menatap Orang Lain


Manusia adalah makhluk Allah 'azza wajalla yang paling sempurna. Allah  memberikan anugerah baik akal, budi, maupun nafsu. Manusia juga merupakan makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu, manusia akan menentukan sikap dan cara pandangnya sendiri. Tetapi manusia juga butuh orang lain. Tidak mungkin manusia hidup sendiri. Manusia butuh manusia lain dalam berinteraksi dan menyusuri jalan kehidupan.

Manusia juga Merupakan insan yang Unik!
setiap manusia mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dan mempunyai kebutuhan dan tuntutan hidup yang berbeda-beda.
Ada Kalanya kita melihat orang lain bahagia sontak langsung saja iri ingin mersakan kebahagiaan yg orang lain miliki. Ada kalanya juga ketika melihat orang lain bahagia dia ikut bahagia...
Mereka yg memiliki kelebihan dari sisi material haruslah kita jadikan tolak ukur untuk kita bersemangat untuk menggali bagaimana cara mereka mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan yang mereka capai bukan hanya iri, hasad dan dengki saja terhadap mereka....
Mereka yg pintar rajin beribadah dan tenar akan dakwah mereka bukan kita tutupi jalan dakwah mereka dan kita jauihi dengan alasan Malu untuk menemui mereka, Tanyakan kepada mereka dan belajarlah pada mereka bagaimana mereka dapat mendapatkan kesuksesan dan bagaiman mereka dapat mendekatkan diri mereka terhdap tuhan Allah 'azza wajalla.
Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalannya menuju surga. (HR.Muslim)
Manusia Merupakan insan yang Unik!

Ya,! manusia adalah makhluk unik. Lihat saja di sekeliling kita. Ada orang yang jago bicara, ada orang yang jago menulis, ada orang yang sangat teliti. Ada yang jago bertani, ada yang jago berdagang. Masing-masing hadir dengan keunikan yang khas.

Oleh karena itu, kesempatan hidup yang dianugerahkan Allah 'Azza Wajalla haruslah dipergunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hidup kita janganlah disia-siakan. Hidup adalah anugerah dari Yang Mahakuasa, dan haruslah dijaga, dipupuk, dipelihara, dan terus dikembangkan. Semua itu dilakukan agar hidup kita memberi manfaat dan nilai tambah bagi sesama dan alam semesta.

Agar bermanfaat dan memberi nilai tambah bagi sesama dan alam semesta, maka setiap manusia harus mampu melihat dan berkaca akan dirinya. Manusia harus mampu melihat dirinya dari sisi positif. Ya, melihat dari sisi positif akan menjadikan manusia terus berkembang, berbenah, dan berubah ke arah yang lebih baik.

Rabu, 11 April 2012

Renungan pernikahan untuk Suami dan Istri


hubungan suami istri

Untuk Suami Renungkanlah …  

Pernikahan menyingkap tabir rahasia... Isteri yang kamu nikahi tidak semulia Khadijah, tidak setaqwa Aisyah, pun tidak setbah Fatimah. Justru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah …
Pernikahan menyadarkan akan kewajiban bersama. Isterimu menjadi tanah, kamu langit penaungnya. Isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya. Isteri ibarat ternak, kamu penggembalanya. isteri adalah murid, kamu mursyidnya. Isteri bagaikan anak kecil,Kamu tempat bermanja dan berkeluhkesah ia. Dan ketika isteri menjadi racun,kamulah penawar bisanya. Seandainya isteri tulang yang bengkok maka berhati-hatilah meluruskannya …

Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan. Untuk belajar meniti ridho Allah SWT. Karena memiliki isteri yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak dari alpa. Kamu bukanlah Rasulullah SAW, pun bukan Sayyidina Ali Karramallahuwajhah. Cuma suami akhir zaman yang mencoba untuk menjadi suami sholeh. Amiin ………

Untuk Isteri Renungkanlah …

Pernikahan menyingkap tabir rahasia. Suami yang menikahimu tidaklah semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub. Apalagi setampan Yusuf. Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh / sholehah …

Pernikahan menyadarkan akan kewajiban bersama. Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya. Suami adalah nahkoda kapal, dan kamu pengemudinya. Saat suami seorang raja, kamu dapat merasakan anggur singgasananya. Dan ketika suami menjadi racun, kamulah penawar bisanya. Sungguh , tatkala suami sebagai inti jantung keluarga, maka anti-lah rusuk pelindungnya. Seandainya suami bengis lagi lancang,maka berhati-hatilah meluruskannya …

Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan. Untuk belajar meniti ridho Allah SWT. Karena memiliki suami yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak dari alpa. Kamu bukanlah Khadijah yang sempurna dalam menjaga, pun bukan Hajar yang setia dalam sengsara. Cuma wanita akhir zaman yang mencoba untuk menjadi istri salehah. Amiin ………

 “Semoga Allah Mengumpulkan Yang Berserakan Dari Keduanya, Memberkati Mereka Berdua Dan Kiranya Allah Meningkatkan Kualitas Keturunan Mereka, Menjadikan Pembuka Pintu Rahmat, Sumber Ilmu Dan Nikmat Serta Rasa Aman Bagi Umat “ (Doa Rasulullah Saat Pernikahan Putrinya Fatimah Dengan Ali Bin Abi Thalib)

Source dari www.kabarislam.com @ kawan kawan di forum dudung

Jumat, 23 Maret 2012

Nikmatnya Berislam

Berbagai nikmat Tuhan Allah yang di berikan kepada kaum muslimin membuat iri orang-orang yahudi dan nasrani, sehingga mereka berupaya agar kaum muslimin tidak mengamalkan agama ini, atau bahkan mereka berusaha mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam untuk mengikuti agama mereka.

Sesungguhnya sebesar-besar nikmat Allah atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat Islam. Dimana Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang mereka kenal nasabnya (silsilah keturunannya, ed.) dari sebaik-baiknya nasab.

Allah berfirman : “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum ( kedatangan Nabi ) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. “ (QS. Ali Imran : 164).

Dengan diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari kelalaian menuju kesadaran, dari perpecahan menuju persatuan, dari permusuhan menuju persaudaraan, dari kehinaan menuju kemuliaan , dari kehancuran menuju keselamatan, dan dari tepi neraka menuju taman-taman surga.

Allah memilihkan bagi mereka agama yang kokoh dan sempurna dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlaq, politik dan sebagainya. Maka putus asalah upaya musuh – musuh Islam untuk menghancurkan Islam, menyelewengkan serta mengurangi ajarannya.

Allah berfirman : “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku- sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan padamu nikmat-Ku, dan telah Ku- ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah : 3).

Dan sungguh Allah bersaksi atas kesempurnaan agama ini, dan menjadikannya sebagai penutup segala risalah, serta Allah mewajibkannya kepada segenap manusia dan jin untuk mengikutinya pada setiap waktu serta pada setiap generasi. Dan Allah tidak akan pernah menerima amalan hamba-Nya yang beragama dengan selain agama Islam, serta memasukkannya dalam golongan yang merugi.

Allah berfirman : “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Allah juga berfirman : “Sesungguhnya agama ( yang di ridhoi ) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19 )

Allah juga menjamin untuk menjaga agama ini dari hawa nafsu orang-orang yang sesat dan dari tangan-tangan musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam.

Allah berfirman : “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. “(QS. AT-Taubah : 32).

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir benci. “(QS. Ash-Shaff : 8).

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesengguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr : 9).

Dan Allah juga berjanji kepada pengikut agama ini untuk memuliakannya serta menolong dari tipu daya musuh-musuhnya jika mereka beriman dan mengerjakan amal shaleh.

Allah berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55).

Sesungguhnya agama ini mempunyai banyak musuh pada zaman pertama kali wahyu diturunkan dan juga pada setiap tempat dan waktu. Dan ini sudah menjadi Sunnatullah, bahwa setiap pembawa kebenaran yang mengamalkan serta menda’wahkannya pasti mendapatkan perlawanan dari pembawa kebathilan dan penyerunya yaitu setan dan bala tentaranya.

Allah berfirman : “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan- syaitan (dari jenismu) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. “(QS. Al-An’am : 112).

“ Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqan : 31).

Mereka berusaha untuk menghalangi kaum muslimin dari agamanya, memberikan keragu-raguan pada aqidah mereka, serta menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin untuk memecah belah mereka. Mereka kerahkan segala kemampuan mereka untuk menghalangi kaum muslimin yang akan mempelajari serta mengamalkan agamanya. Dan ini dinyatakan oleh iblis dihadapan Allah, bahwa dia akan menghalangi manusia dari jalan kebenaran dari segala penjuru.

Allah berfirman : “Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar- benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at). “(QS. Al-A’raf : 16-17).

Nikmat-nikmat Allah yang di berikan kepada kaum muslimin membuat iri orang-orang yahudi dan nasrani, sehingga mereka berupaya agar kaum muslimin tidak mengamalkan agama ini, atau bahkan mereka berusaha mengeluarkannya dari agama Islam untuk mengikuti agama mereka.

Allah berfirman : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). “Dan sesungguhnya jika kamu mau mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al- Baqarah : 120).

Oleh karena itu kita sebagai kaum muslimin wajib untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut, mengakui serta menjaganya, niscaya Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita. Akan tetapi tatkala kita mengingkari nikmat Allah kepada kita apabila ni’mat yang besar ini, Allah akan menggantikannya dengan adzat-Nya yang pedih.

Allah berfirman : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. “(QS. Ibrahim : 7).

Kita minta kepada Allah agar kita di beri kemudahan untuk bersyukur kepada-Nya dan juga kita meminta kepada-Nya untuk menjaga agama kita, berilmu amaliah dan beramal ilmiah serta kita memohon agar meninggal dalam keadaan tetap memeluk agama Islam. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish shawab.

i love islam

Sumber : BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 08 / Dzulhijjah / 1424

http//: www.darussalaf.org versi offline
@ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/


Baca Artikel Diskusi Islam Menarik dan Bermanfa'at Lainnya Disini

Kamis, 08 Maret 2012

Indahnya Hidup Rukun Bertetangga


tetangga social
Salah satu yang harus kita nikmati dalam hidup adalah bagaimana rukun dengan tetangga kita. Kita tidak bisa memilih tetangga yang selalu sesuai dengan keinginan kita.

Tetapi kita harus bisa menyikapi setiap tetangga dengan sikap terbaik kita.Kelebihannya kita sikapi dengan sikap terbaik, sehingga menjadi ladang yang kita syukuri. Kita bisa mendapatkan manfaat dari tetangga yang banyak kebaikan.Demikian pula kekurangan tetangga pun harus menjadi ladang amal bagi kita.Karena, dia juga adalah saudara kita, yang harus kita bantu menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Kita pun harus senang untuk melupakan, jangan merasa berjasa, merasa lebih. Karena, kalau kita banyak berharap dari tetangga kita, akan banyak terluka hati kita. Karena ingin dihargai, ingin dihormati,ingin dipuji, maka akan makin tertekan diri kita. Pendek kata merdekakan diri ini dengan banyak berbuat, bukan banyak berharap dari tetangga-tetangga kita.

Kita tidak akan pernah rugi dengan situasi apapun jika kita selalu bersikap benar di jalan yang Allah sukai. Tapi kita akan rugikalau kita menjadi zalim kepada orang lain. Kalau kita berbuat kebaikan, makakebaikan itu akan kembali kepada kita.

Tetapi, kalau kita berbuat keburukan, maka keburukan itu pula yang akan kembali kepada kita. Mudah-mudahan dengan latihan hidup rukun dalam bertetangga, lingkungan akan bisa kita nikmati di dunia inidan bisa menjadi amal untuk kelak di akhirat nanti.

Alangkah beruntungnya jika kita hidup danbertetangga dengan orang-orang yang mulia. Walaupun rumah sempit, kalau tetangganya baik, akan terasa lapang. Dan, alangkah ruginya, jika rumah kita dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang busuk hati. Walaupun rumah lapang,niscaya akan terasa sempit.

Memang sungguh nikmat jika kita memilikitetangga-tetangga yang baik ahlak, ramah, dan penuh perhatian. Kendati demikian, kita tidak pernah bisa memaksa orang lain untuk selalu bersikap baik,kecuali kita paksa diri kita sendiri untuk bersikap baik terhadap siapapun.

Musik yang bagus berawal dari suara dan tangga nada yang berbeda-beda, namun kalau dipadukan akan menjadi indah. Artinya, kitatidak bisa mengharapkan tetangga-tetangga kita persis sama dengan kita. Bisajadi perbedaan keadaan tetangga malah memperindah ahlak kita. Ada tetangga yang melimpah rizkinya, ada yang kurang rizkinya, ada yang berkedudukan tinggi, adayang tidak berkedudukan, ada yang rumahnya di gang sempit (berdempet-dempet),ada yang bertipe menengah, perumnas, atau BTN, bahkan ada yang besar luas sampai tidak tahu tetangga kanan kiri. Ini adalah sebuah simponi yang kalau disikapi dengan niat yang indah, niscaya akan menjadi sesuatu yangmenyenangkan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda,"Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila mengalami kesukaran/kemiskinan, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya kamu tutup-tutupi dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turutbersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunanrumahmu melebihi bangunan rumahnya, lalu menutup jalan udaranya (kelancaran anginbaginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamumenciduknya dan memberikan kepadanya."

Inilah keadaan rumah Rasul, ketika beliau memasak maka tetangga yang mencium bau masakan tersebut ikut mendapat makanan. Namun,yang paling penting, kita melihat bahwa kebahagiaan kita itu bukan soal kitamendapat sesuatu atau tidak dari tetangga. Yang harus kita latih, kenikmatan bertetangga bukan mengharapkan sesuatu dari tetangga, tapi berupaya agar kitabisa berbuat yang terbaik untuk tetangga.

Kita akan tertekan ketika kita berharap banyak.Sebab, yang namanya rizki tidak selalu bermakna apa yang telah kita dapatkan,melainkan apa yang bisa kita lakukan. Jangan sampai gorden rumah kita copotgara-gara terlalu sering melihat tetangga. Makin sering nengokin tetangga, bisajadi akan semakin menderita, sebab kedengkian kita kepada tetangga tidak akan mempengaruhi rizki tetangga, sebab yang membagikan rizki adalah Allah.

Sialnya jika kita dengki sama tetangga namuntetangga tambah nikmat. Tentu kita tambah menderita. Tetangga makin pulas, kitanggak bisa tidur. Mau keluar rumah susah, mau masuk juga susah. Bagaimana tidak, sosok tetangga yang kita dengkikan itu terus muncul di depan kita.

Maka disini kita harus mampu mengemas kehidupan bertetangga menjadi ladang amal kita.Kalau kita punya tetangga kaya, sukses, jangan iri hati dan jangan sukamengintip. Apabila tetangga memperoleh kesuksesan atau keluasan rizki,belajarlah senang dengan kesuksesan orang. "Alhamdulillah, dia ternyatasekarang dititipi rizki. Mudah-mudahan barokah, mudah-mudahan bisa banyakmanfaat."

Kalau ada tetangga kita yang kekurangan, harusmenjadi ladang amal bagi kita. Tidak termasuk orang yang beriman kalau kitakenyang dan pada saat yang sama tetangga kita lapar. Tidak akan miskin denganmenyantuni tetangga. Jika beras cukup, sisihkan sebagian untuk tetangga. Bajubekas anak-anak yang masih layak pakai, kalau belum sanggup memberikan bajubagus, berikan pada anak tetangga. Panci kita sudah agak penyok-penyok, berikanpada tetangga yang membutuhkan, kalau kita belum sanggup memberinya panci yangbagus. Tentu saja, jika mampu, berikanlah barang-barang yang berkualitas terbaik.

Di sinilah sebenarnya hasil ibadah kita akan terlihat, karena alat ukur ibadah kita bukan ketika sedang shalat saja, tapi bagaimana sesudahnya. Misalnya, shalat itu 5 x 10 menit atau 50 menit,dibulatkan menjadi sekitar 1 jam sehari, sedangkan 1 hari 24 jam. Bagaimanamungkin yang 1 jam baik, sedang yang 23 jam jelek semuanya?

Tidak akan rugi berbuat baik pada tetangga. Makin tetangga merasa nikmat dengan kita, dengan sendirinya mereka akan ikut membelakita. Sehebat apapun kita, tetap butuh tetangga. Misalnya, kita punya saudaradokter, tapi saat anak sakit yang duluan menolong pasti tetangga. Punya saudaraanggota pemadam kebakaran, jika kompor di rumah meletus, yang lebih dulumembantu memadamkan pasti tetangga. Punya saudara jendral atau polisi, datangmaling ke rumah, lantas kita teriak, yang duluan ngejar juga tetangga.

Maka kalau punya tetangga, terus perhatikan.Setiap kebahagiaannya, kita ikut bahagia. Anaknya lulus, alhamdulillah. Anaknyadapat kerjaan, alhamdulillah. Anak tetangga dapat jodoh, alhamdulillah. InsyaAllah, kita akan bahagia terus. Hidup penuh kesyukuran kepada Allah Yang MahaPemurah.

Makin tetangga sayang kepada kita, makinberbahagia hidup kita. Karena itu, bersilaturahmi dengan tetangga itu jangancuma sisa waktu. Maksudnya, luangkan waktu, tenaga, fikiran untuk terusbersilaturahmi memperhatikan tetangga. Kalau mereka ingin maju, majulahbersama-sama. Karena, kalau kita maju sendirian dan tetangga tidak ikut maju,bisa jadi muncul kecemburuan sosial. Hal ini tentu akan merusak iklim pergaulansosial di sekitarnya.

Jika kita jadi orang kaya namun tinggal dilingkungan perumahan sederhana, kemudian bikin rumah lima lantai sendiri tapidi sekelilingnya gubuk, tentu bisa menimbulkan sakit hati. Usahakan kalau kitapunya rumah jangan sampai terlalu menyolok, membuat orang lain dengki. Sepertikata Rasul, jangan sampai menutupi cahaya, kecuali kalau mereka ridha. Kalautidak, berikan kompensasi yang memadai. Pokoknya jangan berbuat yang membuattetanga tidak suka kepada kita.

Pertanyaannya, bagaimana kalau tetangga kita yang kurang baik ahlaknya? Ini juga bisa jadi ladang amal. Kalau dalam satu RT adatetangga yang ahlaknya kurang bagus, kita jangan meladeni dengan hal yang sama,sebab nanti di tempat itu jadi ada dua yang sama jeleknya: dia dan kita.

 Tetangga yang kurang baik, yang kurang bijaksana,harus menjadi ladang amal bagi kita. Kita berkewajiban memberi contoh bagaimanasikap bertetangga yang baik. Sikap emosional, sikap  membalas dendam, hanya akan membuat kehidupan bertetangga bagai api disiram bensin. 

Bila kita sudah berusaha berbuat baik terhadap tetangga kita, namun ternyata tetangga kita berbuat sebaliknya, misalnya dia kurang mengetahui etika bertetangga, kita perlu pahami bahwa orang berbuat salah, berbuat jelek, belum tentu orang itu ingin berbuat zhalim. Ada orang berbuat salah karena dia merasa hal itu adalah benar menurut standar dia. Diabelum tahu, maka tugas kita adalah memberi tahu. Ada yang sudah tahu, tapimasih susah menghilangkan kesenangannya, maka kita bantu agar secara pelan tapipasti dia bisa mengganti kesenangannya tanpa merugikan orang lain.

Sebagai pelajaran, hati-hati dalam berbuat. Jangan sampai tetangga merasa teraniaya. Yang paling penting adalah jangan hadapi tetangga dengan kebencian, karena kalau kita sudah benci kita akan cenderung menjatuhkan, menyakiti, membeberkan aib, dan semua ini tidak menjadi solusi.

Tetangga memang orang terdekat dengan kita.Menurut Imam Syafi'i, mereka adalah empat puluh rumah di samping kiri, kanan,depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka.Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol di antara pagar rumah. Tetangga adalah orang terdekat dengan kita. Orang tuabilang, mereka adalah 'andalan' untuk segala suasana.

  Rasanya, kita senantiasa harus melakukan instrospeksi terhadap diri pribadi. Apakah tetangga kita menyukai kehadirankita atau jangan-jangan mereka malah terganggu dengan kehadiran kita. Makasudah saatnya kita menebarkan salam, senyum, pada orang yang berada di sekitartempat tinggal kita. Menjaga perasaan mereka, mengulurkan bantuan sekuattenaga.
sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakantetangganya." (HR Muslim).

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa kita tolak. Manusia, bukan semata-mata personal-being(makhluk individu), tapi juga merupakan social-being (makhluk sosial).Seseorang tidak bisa hidup secara sendirian atau menyendiri. Mereka satu samalain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama. Ini merupakan hukum sosial. Islam bahkan  memerintahkan segenap manusia untuk senantiasa berjama'ahdan berlomba dalam berbuat kebaikan. Sebaliknya Islam melarang manusia bersekutu dalam melakukan dosa dan permusuhan.

Isyarat hidup berjama'ah dalam kebaikan dan harussenantiasa memeliharanya, misalnya termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 2, yangartinya sebagai berikut;

"Bertolong-tolonganlah kamu dalam berbuatkebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa danpelanggaran. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangatberat siksa-Nya."

nDalam menumbuhkan dan mensosialisasikan budaya kebaikan dan taqwa itu, tetangga merupakan objek yang patut didahulukan(setelah anggota keluarga tentunya). Ini hirarki penyebaran kebaikansebagaimana diarahkan Al Qur'an.

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah baratdan timur itu suatu kebaikan. Akan tetapi sesungguhnya kebaikan itu ialahberiman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yangmeminta-minta.".

Bahwa urutan kebaikan menurut ayat di atas adalah,setelah beriman (dalam pengertian menyeluruh), maka urutan berikutnya adalah membangun perilaku sosial yang sehat. Jadi Islam menginginkan budaya kesalehanitu tidak terbatas pada sekup personal (pribadi), tapi juga terciptanya kesalehan secara sosial. Maka, dalam konteks ini hidup rukun dan harmonis dengan tetangga menjadi sangat penting dan wajib.

Rasul memerintahkan kita untuk selalu menghormati tetangga jika kita benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir, sepertit ermaktub dalam hadits beliau di bawah ini;

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah danHari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya." (HR Bukhori)

Anjuran untuk menghormati tetangga, tentu maknanya amat luas. Menghormati berarti juga tidak menyakiti hatinya, selalu berwajah manis pada tetangga, tidak menceritakan aib tetangga kita, tidak menghina dan melecehkannya, dan tentu juga tidak menelantarkannya jika dia benar-benar butuh pertolongan kita. Rasululullah saw misalnya, melarang kita berbuat gibah(menjelek-jelekkan kehormatan) pada tetangga kita. Seorang sahabat bertanyapada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah gibah itu?" Beliaumenjawab; "Engkau menyebut sesuatu yang tidak disukai dari saudaramu." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Nabi saw bersabda;"Jibril senantiasa menasihatiku mengenai tetangga, sehingga aku mengira diaakan mewariskannya." (Muttafaqun 'Alaih)

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah mengatakan;"Memelihara hubungan dengan tetangga, termasuk bagian dari kesempurnaan iman." Paralel dengan pernyataan ini, Syeikh Yusuf Qorodhowi menyebutkan,seorang tetangga memiliki peran sentral dalam memelihara harta dan kehormatan warga sekitarnya. Dengan demikian seorang Mukmin pada hakikatnya merupakan penjaga yang harus bertanggung jawab terhadap keselamatan seluruh miliktetangganya. Bahkan, seorang tidak dikatakan beriman jika dia tidak bisamemberi rasa aman pada tetangganya.

Ya Allah 'Azza wa Jalla,  jadikanlah kami warga yang baik bagi tetangga kami.

http://wildanhasan.blogspot.com/2010/04/indahnya-hidup-bertetangga.html
@ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/

Related Search :

Etika, Hak, Islam, Miskin, Muslim, Rukun, Sombong, Sosial, Tetangga, Yatim

Popular Posts